Skip to main content

Sorrow


11: 53

 Entahlah...

Hampa, rasanya.

Terasa kosong, sendiri, sepi, bahkan ketika berada di keramaian.

Sudah lama rasa ini tak hadir.

Padahal aku tak ingin merasakannya lagi.

Yang ada aku hanya ingin kembali ceria, tersenyum, dan tertawa seleluasanya.

Nyatanya melakukan hal seperti itu seperti menguras energi bagiku.

Membuatku lelah dengan sendirinya.

Karena bersikap baik-baik saja di saat tak baik-baik saja.

Kadang ku mencari jawaban dari sebuah pertanyaan "kenapa di saat bersedih, kita lebih sering mengurung diri sendiri di kamar dengan terlelap dan harapan agar bisa melupakan seseorang di masa lalu?"

Semakin ingin melupa, semakin sakit rasanya.

Semakin tak ingin merindu, malah semakin meronta adanya.

Katanya "Hati akan jauh kalau tubuhnya menjauh."

Kita sudah jauh... 

Tapi mengapa hatiku tak bisa menjauh.

Rindu dan sakit ini hanya sepihak.

Hanya daku yang merasakan sakitnya.

Sedang Tuan sedang asyik bercengkerama dengan Puan-puan lainnya.

Apakah dusta atau sekadar bercanda ketika seseorang berkata "Mungkin aku bisa melupakan halaman per halaman dari tulisan sebuah buku yang aku baca, namun tidak dengan rasa."

Aku akui bahwa pernyataan itu nyata rasanya.

Namun tidak dengan orangnya.

Kini...

Aku hampa.

Kosong.

Kering kerontang.

Walau berada di lautan manusia.

Aku merasa tinggal di sebuah dimensi yang berbeda.

Seperti siput dalam cangkang.

Berusaha bersembunyi ketika seseorang mengetuk.

Tinggal sendiri... hanya seorang diri.


Rasanya ingin menjauh. Jauh.. dan jauh.

Beberapa hari ini malas membalas pesan di chat WA, malas membuat story IG at WA, malas memgangkat telfon.

Intinya ingin menjauh saja.

Padahal sadar bahwa itu bukanlah sikap yang baik.

Tapi diri juga ingin sendiri.

Niatnya menenangkan diri, nyatanya mengurung diri sendiri.

Kenapa aku bisa bersikap seperti itu?


Aku mulai rindu diriku kembali.

Rindu...

Berjelajah dan terbang tinggi.

Tertawa bahagia, menebar senyuman, kebahagiaan, 

Merindukan sinar mentari.

Merindu bercahaya kembali.


Salah satu teman memberi nasihat "it's okay if you are not to be okay, sehari atau dua hari kamu merasa terpuruk, buruk, sedih, nangis, gpp, tapi jangan lupa ingetin diri sendiri kalau sedihnya juga dibatasin. Dua hari atau seharian aja cukup buat sedih, asal besoknya kembali lagi ceria, happy seperti biasa seolah yang kemarin tak pernah terjadi."

Tata lagi kehidupan yang berserakan.

Seperti saat keadaanku hancur, kamarku juga ikut hancur. Isi lemariku, meja belajarku juga hancur. Seperti itu hidup, maka aku perlahan-lahan harus menata dan membersihkannya kembali. Membuang yang tidak perlu dan menata yang masih kubutuhkan serta berfungsi dengan baik.

Seperti itu pula rasanya keadaan hati dan jiwa dalam diri. Bersihkan, buang yang negatif, simpan yang positif, tata lagi pikiran, tentang tujuan, impian, cita-cita, dan..... cinta (?). Sudahlah lupakan cinta sejenak. Aku ingin istirahat malam ini.

Comments