Rumit, cukup rumit. Ketika kita dihadapkan pada beberapa permasalahan yang terkurung dalam satu waktu. Kisah persahabatan, keluarga, cita-cita, dan cinta yang mungkin akan membuat kita berpikir lebih jauh dan mendalam. Tentang apa yang harus diperjuangkan. Tentang apa yang harus dikorbankan. Tentang apa yang akan dipertahankan. Tentang melepaskan. Dan belajar menerima kehilangan.
Iya.... namaku Biru. Penulis sudah menceritakan sekilas tentang kehidupan masa kecilku yang suram. Entahlah, mungkin di sesi berikutnya ia akan melanjutkannya untuk membuka kembali kenangan kehidupan masa-masa kecil ku dan mengajaknya berdamai mungkin. Semangat yaaaa penulis, kau akan membuka luka lama yang sudah ku tutup rapat-rapat, mengorek-ngoreknya kembali, dan berusaha berdamai dengan masa inner child ku.
Aku Biru. Aku di sini sedikit membantu penulis saja dalam menjelaskan bagaimana karakterku. Aku adalah anak terakhir dari beberapa bersaudara. Yups Ragil, yang memiliki seorang Abang dan Kakak perempuan. Ada beberapa hal yang aku sesalkan ketika dilahirkan di dunia ini. Terkadang mengeluh mengapa aku dilahirkan terakhir dan bukan yang pertama? I don't know why i'm act like this. Mungkin karena ambisi untuk selalu menjadi yang pertama dan didahulukan. Tapi itu dulu, pada jaman kehidupan masa kecilku. Sekarang beda lagi.
Sebagai si bungsu. Entah ku tak tau, apakah semua anak bungsu merupakan seorang penganalisa sepertiku atau hanya ada beberapa saja yang memiliki kesamaan denganku. Bungsu ini lebih suka bertindak sebagai pengamat. Dia mengamati dan banyak belajar dari kakak-kakaknya dan juga dari pengalaman orang lain. Sebagai anak terakhir, ia adalah kunci terakhir yang menjadi harapan keluarganya dalam memperbaiki atau agar tidak terjatuh ke dalam lubang yang sama. Jika kakak-kakaknya hebat, maka ia dituntut dan dibandingkan agar lebih hebat atau setara dengan kakaknya. Jika kakaknya gagal, maka ia akan mengemban amanah untuk memperbaiki kesalahan kakaknya.
Berat. Sebagai si bungsu itu sendiri aku mengemban amanah untuk memperbaiki kesalahan di masa lalu sekaligus dituntut menjadi lebih hebat dari orang-orang yang telah merendahkan atau memandang sebelah mata keluargaku. Tetapi kejayaan keluarga antara bungsu dan si sulung amatlah berbeda. Kondisi perekonomian yang melonjak turun drastis dan memasuki masa-masa tak berjaya sebagaimana masa pada jamannya si sulung. Pundak yang kecil dan ringkih ini memikul beban berat yang tak terlihat secara kasat mata. Kadang ku berpikir.
"Mengapa bukan aku yang menjadi si sulung? Aku pasti akan melakukan plan A, B, C, D, E, dan sebagainya," begitu gerutuku pada salah satu temanku.
"Mungkin saja jika kamu terlahir sebagai si sulung, kamu tak akan memiliki pemikiran sedewasa ini. Mungkin saja kamu akan melakukan kesalahan yang sama dengan sulung di masa lalu. Makanya kamu lahir terakhir, dituntut untuk memperbaiki. Dituntut untuk menjadi dewasa sejak dini." Papar temanku, menanggapi keluhanku saat itu.
Hem, mungkin orang-orang berpikir menjadi Ragil banyak dimanjanya. Aku tidak mengelak hal itu. Tapi aku sebagai ragil pun juga banyak mengalahnya. Katanya sih, bungsu itu sok-sok an kuat padahal rapuh dan cengeng (emang bener kok). Sok-sok an dewasa padahal masih receh kayak anak-anak (yups kuakui itu). Sok-sok an mandiri padahal butuh tempat bergantung (namanya juga pengen belajar, biar gk dikatain anak manja).
Kalau bisa milih sih. Aku pengen jadi si sulung. Menjadi anak pertama yang memiliki banyak adik-adik. "Kenapa?" Karena aku akan merasa lebih bertanggung jawab kepada mereka dan diriku sendiri dengan menuntut menjadikan diri lebih baik karena sebagai teladan atau contoh untuk adik-adiknya. Aku harus melakukan hal baik untuk dicontoh adik-adikku. Kalaupun aku salah. Aku akan menjadikan kesalahanku sebagai tempat belajar bagi mereka. Tidak ingin mereka melakukan hal yang sama.
Kemudian, sebagai si sulung, aku akan bekerja keras. Mengingat mereka yang harus melanjutkan ke pendidikan yang lebih baik dariku. Mengingat orang tua yang nyatanya harus saling berbagi beban dari pundaknya ke pundakku. Begitulah yang aku pikirkan. Aku si bungsu selalu bertindak seolah-olah aku adalah sulung. Serius. Menanggung beban sendiri. Mandiri. Tak bergantung pada orang lain. Memilih mengandalkan diri sendiri. Namun satu hal yang tak bisa kututupi dari karakter si bungsu yang melekat dalam diriku. Yups, she is childish dan cengeng. Satu hal lagi, dia sulit dalam mengambil keputusan karena selama ini orang-orang sekitarnya selalu ada untuk dirinya. Hingga saat ia sendiri, itulah yang akan dia hadapi.
Sekuat-kuatnya dia, dia juga memiliki sisi kelemahan.
Lalu, apa yang akan dilakukan si Bungsu ketika ia dihadapkan pada permasalahan keluarga, cita-cita, dan cinta dalam satu waktu sekaligus?
.
Wait for the next story...

Comments
Post a Comment