Skip to main content

CERSING: Merindukan Sepenggal Kasih Ibu

2006

    Gadis itu berlari kecil menghampiri seorang perempuan paruh baya yang berdiri di ambang pintu. Tanpa ia sadari, hari itu adalah hari terakhir dirinya menikmati masa kanak-kanak bersama sosok seorang Ibu. Saat itu dirinya masih duduk di kelas 3 SD. Wajahnya yang polos dan lugu. Jujur dan mudah percaya. Manja dan juga rapuh di dalamnya.

"Mama pergi ke Bandung berapa lama? Gak lama kan ya?" tanya gadis kecil itu.

"Sebentar sayang, paling cuma satu minggu." jawab ibunya.

    Gadis kecil itu hanya bisa tersenyum. Walau hanya sebuah jawaban, tapi baginya diartikan sebagai sebuah janji tersirat di dalamnya. Berharap bahwa itu adalah kebenaran. Keluguannya selalu memancarkan sebuah kepercayaan. Percaya pada orang lain. Percaya akan sebuah kebohongan. Hingga waktu terus berlalu. Hari demi hari, berganti ke minggu, beralih menjadi bulan, kemudian menjadi tahun demi tahun. Di rumah ia hanya tinggal dengan dua seorang lelaki, ayah dan kakaknya. Dia juga dititipkan pada tetangga yang menjadi kepercayaan keluarganya. Kepercayaan, bukan berarti dapat dipercaya selamanya.

    Dia merindukan rumah dengan kehadiran sosok seorang perempuan selain dirinya. Dia ingin belajar memasak dari sosok perempuan yang bernama Ibu, karena selama ini ayahnya lah yang menggantikan peran ibu dalam mengajarkannya memasak pertama kali. Iya, semisal memasak dua butir telur kemudian digoreng dan dimanipulasi menjadi tiga butir telur ketika sudah matang untuk menjadi santapan mereka bertiga.

        Untuk pertama kalinya dalam memasak, ayah dan kakak lelakinya lah yang mengambil peranan itu. Ayah yang mengajarkannya memasak telur, Abang yang mengajarkannya cara memasak mie rebus dan omelet. Dan terkadang, dia bermain dan belajar memasak dengan sepupu perempuannya yang tinggal di dekat rumahnya, seperti halnya bagaimana cara membuat nasi goreng dengan rempah-rempah, dan juga memasak nutrijel.

    Dia mencoba mencari kesibukan agar tidak memikirkan ibunya. Ibu yang sudah melanggar janjinya. Ibu yang sudah merusak kepercayaannya. Walau ia tahu bahwa suatu saat ibunya akan kembali. Kini ia tak terlalu banyak berharap lagi. Masih ada rindu dan cinta di hati kecilnya.Tapi selalu ia kubur rapat-rapat. Tak ingin membawa luka untuk menganga kembali.

    Oh ya, pada tahun itu di sebuah desa sangat minim sekali orang memiliki alat komunikasi berupa Hp atau telepon. Gadis kecil itu dan keluarganya tak memiliki Hp saat itu. Hingga sampai suatu masa, seseorang menelepon melalui Hp tetangga kepercayaannya hanya sekadar untuk berbicara dan bertanya kabar pada gadis kecil itu. Tanpa diberi tau siapa yang saat itu sedang berbicara dan menelepon untuknya.

"Halo?" sapa gadis kecil.

"Halo, Biru, Apa kabar?" tanya seorang perempuan di Hp itu.

"Mama?" tanya gadis itu. Sontak kaget mendengar suara itu kembali. Matanya berkaca-kaca, dadanya terasa sesak tiba-tiba. Dia bingung dengan apa yang dirasakannya. Senangkah? atau mungkin, Sedih?

"Iya, ini mama sayang, Biru gimana kabarnya di sana? Baik-baik saja kan?" tanya ibunya.

"Baik. Mama kapan pulang?" balas gadis itu, penasaran sambil berusaha menahan sesan dan air matanya.

"Nanti Mama pulang sayang. Sabar ya. Kamu di sana jaga diri. Blablablabla........" nasihat Ibunya.

    Biru. Iya, nama gadis kecil itu adalah Biru. Banyak hal yang disampaikan ibunya kepada Biru. Namun banyak juga pertanyaan yang menggelayut dalam pikirannya yang menanti sebuah jawaban. Mulutnya seakan terkunci rapat. Menahan rindu, cinta, dan amarah yang menjadi satu yang menjadikannya sesak dan bahkan ingin menangis serta berteriak sekeras-kerasnya. Dia bingung dengan apa yang dia rasakan, ingin marah tapi dia juga merindukan dan mencintainya. Dia tak bisa bertanya, dia hanya bisa menjawab "Hemmm" dari semua pernyataan dan pertanyaan yang dilontarkan ibunya. Hingga ia mengakhiri telepon dengan ibunya karena sudah tak kuat lagi menahan sesak di dada yang kemudian pecah menjadi air mata.

Comments